Pada sebuah malam, tepatnya pukul sepuluh, di atas rajang kamarku, aku belum tidur, sibuk menunggui mataku untuk lelah, tapi nampaknya mata ini ini tidak akan pernah lelah, apalagi kalau aku sedang menatap wajah polos lelaki yang terbaring di sebelahku ini, lelaki tampan yang diberikan Tuhan sebagai hadiah atas hidupku, lelaki yang kunamai dia, cinta.
Seperti halnya mataku, begitu juga tangan sebelah kananku sibuk memacari telinga kanan lelakiku ini, jadilah malam ini aku “ garing “ karena menunggui mata yang memacari wajah yang tidur, dan jariku memacari telinga yang diam keasyikan.
Sementara tanganku yang lainnya, seperti tidak mau kalah dengan pasangannya, ikut juga sibuk membuat lingkaran pada perut lelakiku, membagi kehangatan ini “ seumur hidup “, sejurus aku memandang, wajah yang penuh kerut – kerut sedemikian rupa, kerut yang sudah menelan kisah hidup terlalu lama, kerut yang tidak pernah aku undang untuk ikut merobohkan pertahanan keperempuananku dan kerut yang kenalkan aku pada makna kata cinta yang sebenarnya.
Cinta yang tidak pernah jadi perhatianku selama ini, karena buatku cinta itu seperti “ penjajah “, yang berisi jeruji panjang yang berbentuk sel dalam hati dan memagari rumah kediamanku dengan api, api yang orang kerap menyebutnya “ cemburu “, aku malas berkenalan dengan semua retorika gila itu, aku mau cinta yang sebenarnya, cinta yang benar turun dari mata pindah ke hati, cinta yang memenuhi hampir delapan puluh persen dari mimpi malamku, cinta yang benar namanya cinta, bukan cinta yang kalau marah, berubah menjadi tali gantungan, yang sewaktu – waktu mengincar kepalaku dan membuat aku beku selamanya.
Aku butuh cintaku.
Tidak terlalu muluk sebenarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar